Pengembangan Budaya Keselamatan Nuklir yang Spesifik untuk Indonesia

Dalam upaya meningkatkan keselamatan nuklir di Indonesia, sebuah studi awal yang dilakukan oleh Reno Alamsyah dan Anggoro Septilarso dari BAPETEN mengusulkan pengembangan Budaya Keselamatan Nuklir (Nuclear Safety Culture/NSC) yang disesuaikan dengan nilai-nilai budaya nasional. Penelitian ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan untuk membangun kepercayaan publik terhadap keselamatan nuklir, terutama seiring dengan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di tanah air.

Pengembangan Budaya Keselamatan Nuklir yang Spesifik untuk Indonesia

Sejak tahun 2006, BAPETEN telah mengadopsi standar dan pedoman dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk mengembangkan budaya keselamatan nuklir di Indonesia. Namun, tantangan muncul ketika nilai-nilai budaya lokal tidak sepenuhnya sejalan dengan standar internasional. Dalam konteks ini, laporan Nenilai 2020 mengidentifikasi sepuluh nilai budaya yang ada di masyarakat Indonesia, beberapa di antaranya bersifat negatif, seperti birokrasi yang rumit dan korupsi.

Studi ini menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai positif yang ada dalam budaya Indonesia, seperti gotong royong, demokrasi, dan keberagaman, ke dalam kerangka budaya keselamatan nuklir. Dengan melibatkan masyarakat melalui wawancara dan kelompok diskusi, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai interaksi antara nilai-nilai budaya lokal dan budaya keselamatan nuklir.

BAPETEN diharapkan dapat terus melanjutkan upaya ini dengan melakukan penelitian lebih lanjut dan mengadakan diskusi di tingkat nasional untuk merumuskan budaya keselamatan nuklir yang lebih relevan dan efektif bagi Indonesia. Dengan langkah ini, diharapkan keselamatan nuklir di Indonesia dapat terjaga dan kepercayaan publik terhadap industri nuklir semakin meningkat.

Baca/unduh hasil kajian di sini.

Posting Komentar untuk "Pengembangan Budaya Keselamatan Nuklir yang Spesifik untuk Indonesia"