Film sebagai Media Efektif untuk Sosialisasi Pemanfaatan dan Keselamatan Teknologi Nuklir di Indonesia

Penggunaan film sebagai alat komunikasi dinilai efektif untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan masyarakat Indonesia terhadap teknologi nuklir. Berdasarkan hasil penelitian yang dipresentasikan dalam Seminar Keselamatan Nuklir 2023, masyarakat Indonesia, terutama kelompok usia produktif, masih banyak yang memiliki persepsi negatif terhadap nuklir. Persepsi ini terbentuk sebagian besar melalui film-film yang menggambarkan dampak bahaya nuklir tanpa menampilkan sisi manfaatnya. Dalam survei terhadap 67 responden, sebanyak 49,3% responden mengaku menerima informasi nuklir melalui film, dan kebanyakan dari mereka merasakan ketakutan akan dampak negatif teknologi ini.

Film sebagai Media Efektif untuk Sosialisasi Pemanfaatan dan Keselamatan Teknologi Nuklir di Indonesia

Film, dengan kemampuan uniknya dalam menyampaikan pesan secara halus dan kuat, dianggap sebagai media yang efektif untuk mengubah persepsi ini. Melalui cerita yang menarik dan visual yang kuat, film dapat menggambarkan potensi positif teknologi nuklir, mulai dari manfaatnya dalam bidang kesehatan hingga pertanian. Dengan demikian, publik akan mendapat pemahaman yang lebih seimbang tentang teknologi ini.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa belum ada film yang secara khusus mengedukasi masyarakat Indonesia tentang manfaat nuklir secara positif. Dengan menggunakan film sebagai media komunikasi yang lebih seimbang, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami dan mendukung teknologi nuklir, terutama jika Indonesia ingin membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di masa depan.

Tahukah Anda? Energi nuklir, yang sering dianggap menakutkan, sebenarnya menyumbang lebih sedikit emisi karbon dibandingkan dengan energi fosil, dan dapat menjadi solusi untuk mencapai target emisi nol di tahun 2060.

Baca/unduh hasil penelitian di sini.


Posting Komentar untuk "Film sebagai Media Efektif untuk Sosialisasi Pemanfaatan dan Keselamatan Teknologi Nuklir di Indonesia"