Pendekatan Inklusi Sosial untuk Peningkatan Penerimaan PLTN di Bangka Belitung
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia terus mendapat perhatian khusus, terutama terkait penerimaan masyarakat di Bangka Belitung. Berdasarkan hasil Seminar Keselamatan Nuklir 2023, studi ini memaparkan pendekatan inklusi sosial sebagai strategi kunci untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap PLTN yang direncanakan di wilayah tersebut. Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai proyek nuklir mengalami penundaan akibat penolakan publik. Studi terbaru menunjukkan bahwa sekitar 73% masyarakat Bangka Belitung telah mendukung proyek ini, berkat jaminan stabilitas ekonomi, pembukaan lapangan kerja, dan kemudahan akses energi.
Pendekatan inklusi sosial digunakan untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam kampanye penerimaan nuklir. Langkah ini tidak hanya melibatkan pemahaman terhadap kebutuhan lokal tetapi juga menciptakan komunitas yang mendukung tujuan transisi energi. Strategi ini mencakup program-program pemberdayaan yang bekerja sama dengan tokoh masyarakat, sosialisasi berkelanjutan, serta kampanye pendidikan dan pelatihan yang mendorong pemahaman dan partisipasi dari berbagai lapisan masyarakat.
Pemerintah telah memulai beberapa program sosialisasi di desa-desa strategis dan melibatkan berbagai komunitas, seperti Indonesia Nuclear Youth Society (INYS) dan Komunitas Thorium Untuk Kemaslahatan Umat (KEMAT). Melalui pendekatan inklusif ini, PLTN diharapkan dapat diterima sebagai solusi energi bersih untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060, serta mendukung transisi ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan di Bangka Belitung.
Baca hasil penelitian di sini.

Posting Komentar untuk "Pendekatan Inklusi Sosial untuk Peningkatan Penerimaan PLTN di Bangka Belitung"