Strategi Mitigasi Hidrogen Jadi Fokus Utama dalam Desain Reaktor
Pada Seminar Keselamatan Nuklir 2023, para ahli nuklir menyoroti pentingnya strategi mitigasi bahaya hidrogen dalam desain sistem pengungkung reaktor nuklir untuk mencegah kecelakaan parah seperti yang terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima. Studi yang dipresentasikan meninjau strategi mitigasi hidrogen pasca-kecelakaan Fukushima di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Korea Selatan, dan Jepang. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan regulasi keselamatan reaktor di Indonesia oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).
Kecelakaan Fukushima, yang diakibatkan oleh ledakan hidrogen, mengakibatkan kerusakan parah pada struktur pengungkung PLTN dan menjadi pelajaran penting bagi industri nuklir global. Dalam seminar tersebut, dibahas bahwa reaktor air bertekanan (Pressurized Water Reactor/PWR) dan reaktor air didih (Boiling Water Reactor/BWR) memiliki kebutuhan mitigasi yang berbeda, tergantung pada desain pengungkung masing-masing. Misalnya, pengungkung reaktor BWR cenderung menggunakan gas nitrogen untuk menjaga lingkungan inert dan mencegah reaksi hidrogen, sedangkan PWR mengandalkan sistem rekombinasi hidrogen pasif (Passive Autocatalytic Recombiner/PAR) dan pemantik untuk mengurangi konsentrasi gas yang mudah terbakar.
Selain itu, perhatian besar juga diberikan pada teknologi reaktor modular kecil (Small Modular Reactor/SMR), yang kini semakin populer di seluruh dunia. Reaktor SMR didesain untuk mengurangi risiko hidrogen melalui berbagai fitur, seperti penggunaan bahan kelongsong alternatif yang lebih tahan oksidasi dan sistem ventilasi yang lebih efektif. Beberapa desain SMR, seperti IRIS dan SMART, bahkan telah menggabungkan atmosfer pra-inert untuk menghilangkan oksigen dan menurunkan risiko kebakaran hidrogen secara signifikan.
Seminar juga menyoroti pentingnya standar keselamatan internasional, seperti yang ditetapkan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA). Standar ini mencakup persyaratan untuk desain pengungkung yang mampu menahan tekanan akibat ledakan dan mengintegrasikan sistem pembuangan tekanan yang berfilter guna mengurangi pelepasan produk fisi radioaktif. Dalam konteks Indonesia, regulasi BAPETEN diharapkan akan mengikuti pedoman ini dengan mengakomodasi beberapa aspek penting, seperti proses pembentukan dan pembakaran hidrogen, serta kriteria desain pengungkung yang mampu menahan beban dinamis dan panas.
Dengan langkah-langkah ini, Indonesia berupaya meningkatkan keselamatan nuklir sejalan dengan standar internasional, mencegah terulangnya insiden serupa, dan memastikan bahwa PLTN dapat beroperasi dengan risiko minimal terhadap lingkungan dan masyarakat.
Baca/unduh hasil kajian di sini

Posting Komentar untuk "Strategi Mitigasi Hidrogen Jadi Fokus Utama dalam Desain Reaktor"